Rabu, 23 Maret 2016

Fenomena Kesehatan Mental, Konsep Normal Abnormal di Masyarakat

Nama : Annisa Windra Septiva
Kelas  : 2 PA 07
NPM  : 11514407
Mata Kuliah : Kesehatan Mental
PENDAHULUAN
Sebenarnya agak sulit merumuskan secara tepat apa yang dimaksud dengan normal dan abnormal tentang perilaku. Penyebabnya antaralain: pertama, sulit menemukan model manusia yang ideal atau sempurna. Kedua, dalam banyak kasus, tak ada batas yang tegas antara perilaku normal dan abnormal. Dalam arti, orang yang secara umum dipandang normal- sehat pun suatu saat dapat melakukan perbuatan yang tergolong abnormal, mungkin di luar kesadarannya. Sebaliknya, tidak jarang orang yang secara umum jelas-jelas abnormal melakukan perbuatan atau mengucapkan kata-kata yang sungguh-sungguh normal-waras. Diperlukan sejumlah patokan atau ukuran untuk membedakan antara normal dan abnormal.


TEORI
Pribadi yang normal itu secara relatif dekat sekali dengan integrasi jasmaniah dan rohaniah yang ideal. Kehidupan psikisnya kurang lebih stabil sifatnya, tidak banyak memendam konflik-konflik batin, tenaga dan jasmaniahnya sehat selalu. Pribadi yang abnormal mempunyai atribut secara relatif mereka itu jauh daripada status integrasi.
Profesor Suprapti Sumarno (1976), ada dua pendekatan dalam membuat pedoman tentang normalitas:

1. Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan yang didasarkan atas patokan statistik dengan melihat pada sering atau tidaknya sesuatu terjadi dan acapkali berdasarkan perhitungan maupun pikiran awam. Misal, perilaku makan sepuluh kali dalam sehari.
2. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan yang didasarkan observasi empirik pada tipe-tipe ideal dan sering terikat pada faktor sosial kultural setempat. Misal, perilaku menangis berlebihan hingga menjerit-jerit pada mereka yang sedang mengalami kehilangan seseorang di suatu lingkungan budaya.

Jadi, batas antara normal dengan abnormal bukan dilihat sebagai dua kutub yang berlawanan, melainkan lebih berada dalam satu kontinum sehingga garis yang membedakan sangatlah tipis.
Kriteria Pribadi Normal (Gunarsa & Gunarsa, 1989 mengutip A.H. Maslow: Mittleman):
-          Perasaan aman yang adekuat.
-          Memiliki penilaian diri dan wawasan yang rasional
-          Memiliki spontanitas dan emosionalitas yang adekuat
-          Mempunyai kontak realitas yang efisien
-          Memiliki dorongan dan nafsu jasmani yang sehat serta kemampuan untuk memenuhi dan memuaskannya
-          Mempunyai pengetahuan diri yang adekuat
-          Mempunyai tujuan hidup yang adekuat
-          Mampu belajar dari pengalaman hidupnya
-          Sanggup untuk memuaskan tuntutan dan kebutuhan kelompok
-          Emansipasi yang pantas dan sehat dari kelompok maupun kebutuhan
-          Memiliki integrasi dan konsistensi kepribadian
Kriteria Pribadi Abnormal
1.      Kelangkaan Statistik (Statistical Infrequency)
Tingkah laku abnormal diasumsikan dalam "populasi kurva normal" yang menempatkan mayoritas individu berada di tengah dan sangat sedikit yang berada pada posisi ekstrim. Jadi dengan kata lain, seseorang dapat dianggap normal bila orang tersebut tidak menyimpang jauh dari rata-rata perilaku.
2.      Pelanggaran Norma
Tingkah laku yang menyimpang dari norma sosial dan mengancam atau membuat cemas orang yang mengamatinya.
Misal, Kekerasan psikopat, perilaku liar manik, perilaku aneh skizofrenia.
3.      Penderitaan Pribadi (Discomfort atau Personal Distress)
Suatu perilaku dimana individu secara personal merasa berada dalam situasi penuh tekanan baik stres dari lingkungan maupun kondisi dari dalam dirinya.
Misal, depresi, cemas berat karena takut rasa sakit.
4.      Disabilitas atau Disfungsi (Maladaptif Behaviour)
Ketidak mampuan individu dalam beberapa bidang penting dalam hidup, baik hubungan kerja atau pribadi.
Misal, seseorang yang takut terbang melewatkan kesempatan bekerja di luar negeri.
5.      Tidak Diharapkan (Unexpectedness)
Suatu respon dari perilaku yang tidak diharapkan terhadap stresor lingkungan karena sudah diluar proporsi.
Misal, kecemasan yang sangat dan terus menerus terhadap hartanya, walaupun seseorang tergolong kaya.

Salah satu contoh abnormal yang akan saya bahas dalam teori ini adalah skizofrenia. Perhatikan bahasan singkat tentang skizofrenia berikut ini!

Zkizofrenia
Mengingat istilah dementia praecox tidak tepat, maka Eugene Bleuler (1857-1939) mengganti istilah itu dengan skizofrenia. Kemudian skizofrenia dibagi menjadi empat tipe, yakni hebefrenik, katatonik, paranoid,dan tipe biasa. Zkizofrenia dalam pandangan Bleubler diartikan sebagai “kepribadian terbelah” (zchizophrenia berasal dari bahasa Yunani dan terdiri dari dua kata, yakni schistos = terbelah dan phren = otak. Dengan demikian, skizofrenia berarti otak terbelah atau kepribadian terbelah).
Pengunduran diri dari atau kurangnya perhatian terhadap kenyataan bersama dengan disorganisasi kepribadian merupakan ciri-ciri utama dari gangguan-gangguan skizofrenik. White berkata bahwa “ciri yang sangat membedakan skizofrenia dari psikosis-psikosis lain dengan semua subkelompoknya ialah sikap aneh terhadap kenyataan, kurangnya perhatian untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan...perhatiannya untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan menjadi sekunder dibandingkan dengan perhatian terhadap hal-hal lainnya (White, 1948:527-528). Cameron dan Margaret menyatakan bahwa “reaksi-reaksi skizofrenik adalah sindrom-sindrom disorganisasi dan desosialisasi dimana delusi dan halusinasi dominan, serta tingkah laku dikuasai atau ditentukan oleh khayalan pribadi: (Cameron & Margaret, 1951:494).

Simtom
Simtom-simtom yang sangat umum kelihatan pada para penderita skizofrenik, yaitu simtom-simtom kognitif, simtom-simtom suasana hati, simtom-simtom somatik, dan simtom-simtom motor.
Simtom-simtom Kognitif
Simtom-simtom skizofrenia yang sangat jelas dan sangat penting adalah simtom-simtom kognitif. Simtom-simtom ini meliputi delusi, halusinasi, disorganisasi proses pikiran, dan pembanjiran kognitif (cognitive flooding).
Delusi
Delusi-delusi yang umum ditemukan dalam pikiran penderita skizofrenik adalah keyakinan-keyakinan yang salah dan tidak rasional serta begitu melekat pada pikirannya sehingga tidak mungkin lagi berubah.
Halusinasi
Halusinasi yang merupakan simtom umum skizofrenia berbeda dengan delusi, yakni penderita yang berhalusinasi mengungkapkan pengalamannya tentang kenyataan secara salah dan sama sekali tidak tepat, mendengar, mencium, atau melihat segala sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Disorganisasi Proses Pikiran
Penderita skizofrenik mengalami disorganisasi proses pikiran dimana pikiran-pikirannya kehilangan hubungan asosiatif sehingga pikiran-pikirannya menjadi tidak relevan, yakni tidak ada hubungan antara pikiran yang satu dengan pikiran yang lain.
Sarat dengan Stimulus
Elemen yang penting dalam pengalaman kognitif dari penderita skizofrenik adalah perhatiannya yang meluas yang mengakibatkan apa yang dinamakan sarat dengan stimulus (stimulus overload).
Simtom-simtom Suasana Hati
penderita skizofrenik secara khas memperlihatkan ketidakmampuan untuk mengalami emosi yang sejati. Dengan kata l
Simtom-simtom Somatik
simtom-simtom somatik yang menarik perhatian adalah rangasangan fisiologis umum (denyut jantung, tekanan darah, telapak tangan berkeringat), tetapi bukti yang ada tidak konsisten dan bertentangan (Holmes, 1991).
Simtom-simtom Motor
Penderita skizofrenik yang mengadakan respons terhadap gejala-gejala yang diuraikan diatas akan memperlihatkan bermacam-macam tingkah laku yang aneh dan berlebih-lebihan.

Aneka Ragam Skizofrenia
Kelima tipe utama dan klasik dari gangguan skizofrenik adalah
a.       sinofrenia tidak teratur (hebefrenik),
b.      skizofrenia katatonik,
c.       skizofrenia paranoid,
d.      skizoprenia residual, dan
e.       skizofrenia yang tidak terperinci

ANALISIS
contoh kasus:
Joe adalah siswa yang baik di sepanjang masa SMA-nya. Ia anggota tim futbol, mempertahankan ranking yang bagus dan mendapatkan pujian pada tiap semesternya.
Ia ramah dan populer. Menjelang akhir semester pertama di maktab (college)-nya, semuanya mulai berubah. Joe tak lagi makan bersama dengan kawan-kawan, pada kenyataannya ia mulai berkurung diri di dalam kamar. Ia mulai mengabaikan kesehatan pribadi dan berhenti menghadiri kuliah. Joe mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus membaca kalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa kata-kata dalam naskah buku memiliki makna yang khusus baginya dan dengan sesuatu cara memberitahukan sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Joe mulai menyangka bahwa kawan sekamarnya bersekongkol dengan telepon dan komputernya untuk mengawasi kegiatannya. Joe menjadi takut jika kawan sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah buku dan kini mencoba untuk menipunya. Joe mulai percaya teman sekamarnya dapat membaca pikirannya, pada kenyataannya siapapun yang ia lewati di aula atau di jalanan dapat mengatakan apapun yang ia pikirkan. Saat Joe sedang sendirian di kamar, ia dapat mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat memastikan apa yang mereka katakan tapi ia yakin bahwa mereka membicarakannya.

Pembahasan:
Pada kasus tersebut apakah Joe dapat dikatakan mengidap skizofrenia? Coba kita lihat dari ciri-ciri yang dimiliki oleh Joe, sama atau berbeda dengan seseorang yang mengidap skizofrenia.
Pertama, “Joe mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan harus membaca kalimat yang sama secara berulang-ulang. Ia mulai percaya bahwa kata-kata dalam naskah buku memiliki makna yang khusus baginya dan dengan sesuatu cara memberitahukan sebuah pesan untuk menjalankan sebuah misi rahasia. Joe mulai menyangka bahwa kawan sekamarnya bersekongkol dengan telepon dan komputernya untuk mengawasi kegiatannya. Joe menjadi takut jika kawan sekamarnya tahu akan pesan dalam naskah buku dan kini mencoba untuk menipunya”. Ini termasuk kedalam salah satu simtom kognitif, yaitu delusi. Kenapa termasuk kedalam delusi? Karena pemikiran Joe dalam kasus ini memberikan arti yang besar kepada peristiwa-peristiwa yang tidak penting dan Joe memiliki keyakinan-keyakinan yang salah dan tidak rasional terhadap kawan sekamarnya.
Kedua, “Saat Joe sedang sendirian di kamar, ia dapat mendengar bisikan mereka yang ia percayai sedang mengawasinya. Ia tak dapat memastikan apa yang mereka katakan tapi ia yakin bahwa mereka membicarakannya”. Ini termasuk kedalam halusinasi pendengaran (auditory hallucination) karena Joe mengira ada perkumpulan rahasia yang dibuat oleh temannya dan temannya tersebut merencanakan sesuatu rahasia yang akan dilakukan terhadap dirinya.



DAFTAR PUSTAKA

Supratiknya, A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius
Semiun, Yustinus. 2006.  Kesehatan Mental.  Yogyakarta: Kanisius
http://www.ilmupsikologi.com/2015/10/pengertian-normal-dan-abnormal-dalam-psikologi-menurut-para-ahli.html
http://vanmumul.blogspot.co.id/2013/04/contoh-contoh-kasus-psikologi-abnormal.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar